Langsung ke konten utama

Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli (Bagian IV)


Kalau saham yang anda beli (relatif) tidak naik tidak turun, langkah berikut apa yang terbaik?

Sebelum berdiskusi lebih lanjut, ada baiknya kita perjelas dulu definisi "saham (relatif) tidak-naik-tidak-turun" ini.

Saham yang saya maksud bukan saham yang tidak ada kejadian ("match" atau "trade done") sama sekali. Contoh saham tipe ini: saham yang tidak aktif (tidak ada yang beli dan jual), atau juga saham yang sudah turun ke harga minimum yang ditentukan Bursa Efek Indonesia (Rp50 pada saat ini) di mana saham tersebut sudah tidak bisa turun lebih lanjut di Pasar Regular, tetapi juga tidak ada yang mau beli di harga tersebut.

Yang saya maksud dengan saham yang (relatif) tidak-naik-tidak-turun adalah saham "aktif" yang bergerak dalam kisaran harga tertentu, istilah kerennya: bergerak "sideway." Lagi-lagi kita harus menyamakan persepsi arti "bergerak dalam kisaran" ("sideway") ini agar diskusi kita relevan untuk investor jangka panjang dan juga untuk pemain saham jangka pendek.

Saham tidak-naik-tidak-turun yang saya maksud adalah saham yang tidak naik sampai ke harga di mana anda akan mulai menjual dan juga tidak turun sampai ke harga di mana anda harus cut-loss.

[Catatan: Definisi saham tidak-naik-tidak-turun di  sini lebih spesifik daripada definisi umum saham sideway yang saya tulis di pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway (Bagian III)." Mengapa? Karena kita sudah menentukan harga batas atas dan batas bawah saham tidak-naik-tidak-turun ini.]

Contoh: Misalkan anda membeli saham INTP di harga Rp 10.000 dan menetapkan untuk cut-loss kalau INTP turun ke Rp. 9.000 dan akan mulai menjual kalau saham tersebut naik ke harga 10.500. Tapi INTP hanya turun ke 9700, lalu naik ke 10.300. Lalu turun lagi ke 9.500, naik lagi ke 10.200. Lalu turun lagi ke 9.600 sebelum naik lagi ke 10.300. Lalu turun lagi ke .... Saya rasa anda mengerti maksud saya.

Apa yang harus anda lakukan untuk saham seperti ini?

Saran saya: Jual.

Lah, kok bisa? anda protes. Kan belon turun sampai harga cut-loss?

Protes anda sangat beralasan. Tapi mari kita pikirkan bersama mengapa sebaiknya anda menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun ini.

Ketika bermain saham, kita tidak perlu terpaku hanya pada satu saham. Tapi saya juga selalu menyarankan agar pemula jangan punya terlalu banyak macam saham dalam portofolio. Fokus pada 5 saham berbeda. Jangan punya lebih dari 10.

Kalau anda menuruti saran ini dan fokus hanya pada 5 saham, tetapi semua saham ini tidak-naik tidak-turun dalam jangka waktu yang lama, sedangkan banyak saham lain (yang tentu saja tidak anda miliki) naik pesat, bagaiman perasaan anda?

Anda tentu sangat kecewa. Tetapi semua modal anda sudah ditanamkan pada 5 saham yang tidak-naik-tidak-turun ini. Kalau anda tidak menjual, anda tidak punya modal untuk beli saham lain. Kalau anda tidak menjual, anda kehilangan kesempatan untuk meraup untung dari saham lain. Opportunity lost.

Ini adalah alasan pertama untuk menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun.

Mari kita lihat skenario kebalikannya: kalau semua saham anda tidak-naik tidak-turun, tetapi semua saham lain malah anjlok tajam, bagaimana perasaan anda?

Anda tentu senang. Tetapi, kesenangan anda ini tidak akan berlangsung lama.

Mengapa?

Karena ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:

1. Saham anda yang tidak-naik-tidak-turun, karena setia-kawan dengan saham-saham lain, akhirnya akan ikut anjlok mencapai harga cut-loss anda.

Ini adalah alasan kedua untuk menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun.

2. Saham anda tetap tidak-naik tidak-turun, tetapi saham-saham lain yang sudah anjlok parah akhirnya naik lagi. Kalau anda membeli saham ini setelah mereka anjlok, anda bisa untung besar. Tapi sayangnya anda tidak punya uang untuk membeli karena semua modal anda terpasung di saham yang tidak-naik-tidak-turun.

Ini adalah alasan ketiga untuk menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun.

Intinya: tidak menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun ada "opportunity cost"nya, ada "biaya kesempatan" yang hilang karena anda tidak bisa membeli saham lain.

OK, kata anda, masuk akal juga. Tapi jualnya di harga berapa? Kapan?

Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli (Bagian V)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
 

    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    4 Tahap Pergerakan Harga Saham

    Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets menyatakan bahwa ada 4 tahapan pergerakan harga saham: Tahap 1: The Basing Area (Area Dasar) Tahap 2: Advancing Phase (Fase Naik) Tahap 3: The Top Area (Area Puncak) Tahap 4: The Declining Phase (Fase Turun) Silahkan lihat Figure 1. Figure 1. Grafik Tahapan Pergerakan Harga Saham Menurut Stan Weinstein Menurut Stan Weinstein, waktu paling ideal bagi investor jangka panjang untuk membeli saham adalah ketika saham naik (breakout)  dari Basing Area (Tahap 1) ke Advancing Phase (Tahap 2). Perhatikan bahwa Stan Weinstein tidak menyarankan investor jangka panjang untuk membeli saham ketika saham bergerak datar (Tahap 1 dan Tahap 3) dan juga tidak menyarankan—bahkan melarang—investor jangka panjang membeli saham ketika saham bergerak turun (Tahap 4). Yang disarankan Stan Weinstein adalah membeli saham ketika saham NAIK (dari Basing Area ke Advancing Phase). Kalau anda investor jangka panjang, coba anda analisa diri sen...

    Contoh Warkat/Sertfikat Saham Semen Gresik (SMGR)

    {Terima kasih YP untuk scan warkat saham SMGR ini.} Berikut ini adalah contoh warkat/sertifikat saham PT Semen Gresik: Figure 1. Contoh Warkat/Sertifikat Saham PT Semen Gresik Pos-pos yang berhubungan: Arti Istilah "Scriptless Trading" di Bursa Efek Indonesia Contoh Warkat/Sertifikat Saham Rig Tenders (RIGS) Contoh Warkat/Sertifikat Saham Semen Cibinong (SMCB) Contoh Warkat/Sertifikat Saham Trias Sentosa (TRST)  [Pos ini © 2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

    Mekanisme Transaksi Pre-Opening Bursa Efek Indonesia

    Pernahkah anda memperhatikan bahwa pada jam 08:55 — sebelum perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia dibuka di jam 09.00 WIB — ada beberapa saham yang sudah ada transaksi terlaksana (Trade Done)-nya. Figure 1. Trade Done Pre-Opening ADRO 19 Juni 2014 (Sumber: HOTS KDB Daewoo Securities) Transaksi sebelum jam 09:00 ini adalah transaksi yang terlaksana di sesi Pre-Opening (Pra-Pembukaan). Di pos ini saya akan membahas mekanisme transaksi sesi Pre-Opening ini: saham apa saja yang diperdagangkan, jadwal Pre-Opening, mekanisme pembentukan harga, dan mengapa bertransaksi di Pre-Opening. Saham Yang Ditransaksikan di Pre-Opening Saat ini saham yang ditransaksikan di sesi Pre-Opening adalah saham yang masuk indeks LQ45. Kenapa cuma saham LQ45? Ini adalah ketentuan dari otoritas Bursa Efek Indonesia. Jadwal Sesi Pre-Opening   Menurut Bursa Efek Indonesia, jadwal sesi Pre-Opening adalah jam 08:45 - 08:55. Artinya, anda bisa memasukkan order beli atau order jual dari jam 08:45 sampai dengan...